Tentang Kami Redaksi

Lawan NasDem, Rizal Ramli Di Bela Peradi Seluruh Indonesia

Foto | Istimewa | ParlemenRakyat.com


Jakarta, ParlemenRakyat

Konflik Rizal Ramli dengan Partai NasDem berbuntut panjang. Setelah NasDem melaporkan Rizal ke Polda Metro Jaya, Rizal Ramli melawan dan mendapatkan bantuan Peradi (Perhimpunan Advokat Indonesia).

Ketua Dewan Pembina Peradi Otto Hasibuan mengklaim sebanyak 720 lebih advokat Peradi dari seluruh Indonesia sudah bergabung untuk mendukung Rizal Ramli. Otto mengatakan para advokat tersebut bergabung tanpa minta imbalan.

"Kita sebagai advokat tidak boleh terlalu lama tidur dan harus berjuang demi rakyat, karena advokat adalah pejuang. Oleh karena itu saya mengajak teman-teman untuk bergabung dalam Team Pembela Rizal Ramli, anti-impor beras, garam, dan lain-lain, yang merugikan rakyat, dengan tag save Rizal Ramli,” ujar Otto.

“Bahwa ternyata ada 720 lebih orang yang sudah mendaftar sebagai pengacara Rizal Ramli, mendaftar lewat surat dan WhatsApp. Sebagian ini menunjukkan bukan main-main, mereka sangat perihatin, kita berpendapat sebaiknya pendapat itu dilindungi,” kata Otto di Grand Slipi Tower, Jakarta Barat, Senin (17/9/2018).

Otto menilai laporan Partai NasDem salah sasaran. Sebab kata Otto, Rizal Ramli sama sekali tidak pernah menyebut Partai NasDem dalam diskusi di TV beberapa waktu lalu.
“Sedangkan di diskusi Rizal Ramli tidak mengatakan ada NasDem, tapi hanya menyebut Surya Paloh, tidak ada kata-kata menyebut NasDem, sehingga somasi ini tidak tepat,” imbuh Otto.

Sementara itu Rizal mengungkapkan, selama diskusi tidak pernah menyebut Partai NasDem. Rizal juga menegaskan akan mempertimbangkan menuntut balik Partai NasDem.
“Kami mempertimbangkan nuntut balik. Enak banget rusak reputasi Rizal Ramli. Enak saja menyebut saya fitnah, kita akan minta KPK bongkar kasus ini,” ujar Rizal.

Pada kesempatan itu, Rizal juga berterima kasih atas bantuan hukum yang diberikan Peradi. “Sebetulnya masalahnya sederhana kami tidak pernah menyebut nama Partai NasDem, kok partainya merasa tersinggung, gak pernah dalam kalimat kami,” tandasnya.

“Esensinya sederhana, cara cari uang politik paling gampang dengan impor pangan. Karena harga daging di Indonesia jauh lebih mahal dibanding Australia dan Bangkok,” pungkas Rizal Ramli. (Ahr)