Tentang Kami Redaksi

BMKG: POTENSI GELOMBANG TINGGI MENCAPAI 6 METER

Foto | Istimewa | ParlemenRakyat.com



Jakarta, ParlemenRakyat

Sejak tanggal 17 Juli 2018 BMKG memberikan peringatan dini gelombang tinggi, yang diperkirakan pada waktu itu akan mencapai ekstreem (ketinggian 6 meter) pada tanggal 19 Juli 2018. Dan saat ini BMKG perlu memberikan peringatan dini berikutnya karena diperkirakan pada tanggal 23-28 Juli 2018 masih akan terjadi gelombang tinggi dengan ketinggian 2.5-6.0 meter dan puncak ekstreem diperkirakan terjadi pada tanggal 24-25 Juli 2018.

Kepala BMKG, Prof. Dr. Dwikorita Karnawati, M.Sc, Ph.D. dalam paparannya mengatakan, Prakiraan tinggi gelombang laut di perairan Indonesia pada tanggal 23-28 Juli 2018 memungkinkan terjadi "Tinggi Gelombang 1.25-2.5 m (Sangat Waspada) berpeluang terjadi di Laut Jawa bagian timur, Perairan timur Kotabaru, Selat Makassar bagian selatan, Laut Flores, Perairan Baubau Kep.Wakatobi, Laut Banda, Perairan selatan P. Buru - P. Seram, Perairan Kep. Kei-Kep. Aru, Perairan Kep. Babar-Kep.Tanimbar, Perairan barat Yos Sudarso, Laut Arafuru, Perairan Jayapura," ujarnya di Pisa Cafe, Menteng, Jakarta. Minggu (22/7/2018).

Dia tambahkan, Tinggi Gelombang 2.5 - 4 meter (Berbahaya) berpeluang terjadi di Perairan Sabang, Perairan utara dan barat Aceh, Perairan barat P. Simeulue hingga Kep. Mentawai, Perairan barat Bengkulu hingga Lampung, Selat Sunda bagian selatan, Perairan selatan Jawa hingga P. Sumbawa, Selat Bali - Selat Lombok - Selat Alas bagian selatan, Perairan selatan P.Sumba, Laut Sawu, Perairan selatan P. Rote.

"Pada tanggal 24 - 25 Juli 2018 berpeluang terjadi peningkatan tinggi gelombang menjadi 4 - 6 meter (Sangat Berbahaya) di Perairan Sabang, Perairan utara dan barat Aceh, Perairan barat P. Simeulue hingga Kep. Mentawai, Perairan barat Bengkulu hingga Lampung, Samudra Hindia barat Sumatra, selat Sunda bagian selatan, Perairan selatan Jawa hingga P. Sumba, Selat Bali -Selat Lombok - Selat Alas bagian selatan, Samudra Hindia selatan Jawa hingga NTB," ucap Dwikorita yang didampingi Mentri Perhubungan, Budi Karya Sumadi.

Kondisi tekanan tinggi yang bertahan di Samudra Hindia (barat Australia) atau disebut dengan istilah Mascarene High memicu terjadinya gelombang tinggi di perairan selatan Indonesia, hal ini dikarenakan kecepatan angin yang tinggi di sekitar wilayah kejadian mascarene high di Samudra Hindia (barat Australia) dan terjadinya swell/Alun yang dibangkitkan oleh mascarane high menjalar hingga wilayah Perairan Barat Sumatra, Selatan Jawa hingga P. Sumba. Kondisi tersebut juga berdampak pada peningkatan tinggi gelombang hingga berkisar 4.0 - 6.0 meter.

Secara umum, masyarakat diperingatkan agar tetap waspada kenaikan tinggi gelombang, menunda kegiatan penangkapan ikan secara tradisional hingga gelombang tinggi mereda dan masyarakat dan kapal-kapal terutama Perahu nelayan dan kapal kapal ukuran kecil agar tidak memaksakan diri melaut serta tetap waspada dan siaga dalam melakukan aktivitas pelayaran, "pungkas" Dwikorita. (Ahr)