Tentang Kami Redaksi

PENTINGNYA REGULASI LISTRIK SURYA ATAP UNTUK MENDUKUNG PENCAPAIAN TARGET ENERGI TERBARUKAN

Foto | Istimewa | ParlemenRakyat.com


Jakarta, ParlemenRakyat

Kebijakan Energi Nasional (KEN) Indonesia mentargetkan adanya peningkatan energi terbarukan dari 5% di tahun 2015 menjadi 23% di tahun 2025. Target ini mengindikasikan kapasitas pembangkitan Iistrik dari energi terbarukan sebesar 45 GW, atau diperlukan tambahan sekitar 36 GW dari kapasitas pembangkit yang ada saat ini. Pembangkit Listrik Tenaga Surya ditargetkan mencapai 6,4 GW.

Namun sayangnya, hingga hari ini kapasitas pembangkit dari energi surya masih sangat rendah yaitu dibawah 100 MWp, padahal potensi nasional mencapai angka 560 GWp. Salah satu peluang untuk mengoptimalkan potensi yang besar ini adalah dengan mendorong pengembangan listrik surya atap (solar rooftop)

Dr. Andhika Prastawa, Ketua Umum AESI menyatakan sejak Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap (GNSSA) diIuncurkan pada September 2017, terdapat animo yang tinggi dari masyarakat dan ini ditandai dengan meningkatnya jumlah Iistrik surya atap yang tersambung dengan jaringan PLN (grid tief) lebih dari dua kaIi Iipat daIam enam buIan.

Selain itu, trend yang sama juga dapat dilihat pada pemasangan listrik surya atap di gedung perkantoran, bangunan komersial serta perumahan yang dikembangkan oleh developer, kata Andhika dalam pemaparannya di Bakoel Kofie, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu 1 Juli 2018.

Fabby Tumiwa, Direktur Institute for Essential Services Reform (IESR), mengatakan,
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki potensi energi surya yang cukup besar. Laporan IRENA tahun 2017 menyebutkan bahwa potensi surya di Indonesia mencapai 3,1 GW per tahun, dimana sekitar 1 GW merupakan potensi dari listrik surya atap dan 2,1 GW untuk PLTS.

Sayangnya hingga saat ini belum ada regulasi yang memadai untuk mendorong pengembangan listrik surya atap, bahkan Permen ESDM No. 1/2017 justru menghambat pemanfaatan teknologi listrik surya atap khususnya untuk bangunan komersial dan industri serta fasilitas publik. Sehingga dengan regulasi yang ada, secara ekonomi menjadi lebih mahal dengan adanya ketentuan untuk membayar biaya kapasitas kepada PLN, ujar Fabby.

Nur Pamudji, Ketua Dewan Pakar AESI menyampaikan bahwa saat ini terdapat gerakan global oleh perusahaan perusahaan multinasional, termasuk yang memiliki investasi di Indonesia untuk berkomitmen menggunakan Iistrik dari sumber energi terbarukan hingga mencapai 100% yang dinamakan RE100.

Pemanfaatan teknologi surya atap merupakan salah satu cara bagi perusahaan perusahaan tersebut untuk memenuhi komitmen dan target mereka karena dapat langsung dipasang di atap fasilitas produksi atau kerjanya. Selain membeli Iistrik hijau dari pembangkit lainnya dengan harga premium, Adanya regulasi yang dapat mendorong perusahaan perusahaan ini untuk memasang listrik surya atap dengan kapasitas yang besar dengan biaya yang ekonomis, ujar Nur Pamudji. (Ahr)